Minggu, 26 Juli 2020

Allah Tahu Kapan Waktu Paling Tepat Untuk Do’amu Diijabah

(Disclaimer : Murni pengalaman pribadi, dan semoga bisa menginspirasi)

Masa pandemik COVID-19 menjadikan kita semua harus dapat beradaptasi dengan keadaan yang sebelumnya belum pernah kita rasakan, bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya sama sekali. Begitupun yang saya rasakan, setelah lulus menjadi Sarjana Kesehatan Masyarakat pada akhir tahun 2019 lalu, seperti kebanyakan fresh graduate lainnya, saya mencoba untuk melamar pekerjaan. Namun, COVID-19 mulai menginfeksi masyarakat Indonesia pada awal tahun 2020. Pekerjaan yang saya coba lamar pun diundur pengumumannya sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan. Karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan saya untuk bekerja, akhirnya saya terjun menjadi relawan COVID-19. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari pengalaman menjadi relawan bersama salah satu organisasi komunitas Kesehatan Masyarakat Indonesia. Selain menjadi relawan, untuk mengisi waktu senggang di rumah, saya mengikuti banyak course online yang diadakan oleh banyak instansi terkemuka di dunia.

Dalam pemikiran saya, rasanya banyak inovasi2 dan tema2 penelitian yang muncul (maaf, banyak gaya, hehe). Tercetuslah ide, bagaimana jika saya melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana, yang linier dengan pendidikan saya sebelumnya. Walaupun saya sendiri sering merasa insecure, dengan pertanyaan yang sering muncul dibenak saya, tentang apakah saya bisa bertahan dan berada di lingkungan akademisi yang notabenenya pasti terdiri dari orang-orang yang hebat.

Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya mulai mencoba cek website universitas-universitas negeri yang ada jurusan kesehatan masyarakatnya. Saya juga mengecek apa saja persyaratan yang harus dipenuhi untuk ikut seleksi pascasarjana di universitas negeri. Akhirnya, (dengan modal nekat, hehe) saya mencoba ikut seleksi di Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada dan Universtas Indonesia. Kebetulan universitas tersebut sedang membuka ujian mandiri untuk pascasarjana dan kebetulan juga ada jurusan kesehatan masyarakatnya. Saya mulai mendaftar dan mulai mencoba memenuhi persyaratan2 yang diminta untuk bisa ikut seleksi pascasarjana. Setelah menyelesaikan semuanya, akhirnya saya sampai pada tahap untuk membayar biaya seleksi (finalisasi). Ketika akan membayar biaya seleksi pascasarjana di UGM dan UI, ibu saya angkat bicara soal harapannya tentang jenjang Pascasarjana ini (padahal sudah ikut TO tes PAPS UGM, dan hasilnya lumayan, hehe). Sampai akhirnya, saya membatalkan pembayaran seleksi tersebut, karena saya tidak mendapatkan restu dari Ibu saya. Ibu saya lebih merestui saya agar dapat mencoba untuk menyelesaikan pendaftaran ke UNPAD terlebih dahulu,  dikarenakan jarak yang lebih dekat dengan rumah, sehingga bisa lebih mudah jika terdapat keperluan yang mendesak. Akhirnya, saya meneruskan untuk daftar ke UNPAD sebagai calon mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat. 

(Hasil TO tes PAPs di UGM)

Setelah melengkapi persyaratan untuk mengikuti seleksi, saya dan rekan-rekan yang lainnya dikumpulkan di sebuah group WA (karena saat ini, semua kegiatan harus  dilaksanakan secara daring). Di group tersebut kita semua diberikan informasi serta dijelaskan tahapan-tahapan selanjutnya yang harus kita tempuh.


Dimulai dari pra wawancara, yang dipimpin langsung oleh ketua prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Padjajaran. Saya dapat merasakan tambahan energi positif, meskipun ini merupakan tahap awal yang saya jalani. Tapi entah kenapa, semangat untuk belajar dan berjuang, terpancar dari wejangan-wejangan yang beliau berikan kepada kami.

Dimulai dari sini lah, Allah menunjukkan hal-hal yang selama ini menjadi doa-doa saya di setiap waktu.

Saya ingat betul ketika beliau berkata, “Kalian tuh kalau keterima pada hebat, yang lulusan kesmas, kesling S1 nya, pascasarjana bisa di FK, hehe”. Seketika saya langsung ingat perjuangan waktu lulus SMA, pengen banget sekolah di FK, sampe menunda kuliah, ikut SBMPTN 3 kali, ikutan seleksi ke universitas2 swasta yang ada FK nya sampai akhirnya menyerah karena biaya kuliah di FK universitas swasta yang mahal.


Pas pra wawancara kami memperkenalan diri, pesertanya lumayan banyak, dan ternyata yang fresh graduate cuman sendiri. Hafal dong ketua prodi, sama fresh graduate yang sendirian ini.  Ketua prodi bilang, “Itu tuh yang fresh graduate sendiri, coba ikutan fast track, kalau mau dan punya komitmen yang kuat  kita pihak dari UNPAD akan sangat membantu” kaget banget! Waktu sebelum lulus S1 pernah nyoba2 cari tau untuk beasiswa fast track, tapi minder karena kayanya belum bisa memenuhi syaratnya, tapi disaat engga kefirian sama sekali untuk ikutan fast track, Allah kasih jalan, Masya Allah! Tabarakallah! 

Pada tanggal 13 Juli 2020, di group WA akhirnya di share jadwal untuk seleksi wawancara. Di persyaratan kami semua diwajibkan untuk membuat statement of purpose. Nah! Di dalamnya saya sisipkan role mode, salah satu peneliti di UNPAD yaitu bpk Fedri Ruluwedrata Rinawan, dr., M.Sc.PH, PhD beliau adalah sosok di balik aplikasi “iPosyandu”. Kenapa saya memilih beliau menjadi role mode? Karena kita sama2 menciptakan aplikasi, walaupun aplikasi yang saya ciptakan banyak kurangnya hehe. Tibalah saat jadwal wawancara keluar, pas baca jadwalnya, ternyata penguji saya, nanti di sesi wawancara itu beliau, OMG!!! Kelar dehhhhhh (pikir saya) ~

(Wawancara pun tiba) Pada saat wawancara hal yang saya takutkan adalah : 1. Wawancara pake bahasa Inggris (walaupun engga keseluruhan), 2. Ditanya2 tentang penelitian, 3. Ditanya2 masalah metlit atau statistik, dan 4. Di wawancara sama doktor2 muda yang sekolah di luar negeri (takutnyanya idealis, termasuk bpk Fedri, perkiraan saya, hehe). Ternyata semua hal yang di takutkan terjadi! Ngerasa bener2 engga pede pokoknya, sangat berusaha untuk menjawab dengan semaksimal mungkin, tapi di akhir sesi wawancara beliau2 bilang “Ulya, mau gabung sama kami di pusat studi ?”, “Ulya ada cita2 engga buat jadi dosen atau peneliti ?", kaget banget lagi! Disaat sering ngerasa insecure sama diri sendiri, dan mengubur mimpi2 itu, Allah kasih jalan lagi lagi dan lagi!!! Masya Allah! Tabarakallah!


(Hari pengumuman pun tiba) Tanggal 24 Juli 2020 adalah hari yang paling ditunggu-tunggu!!! Dari jam 24.01 WIB udah ngecek website (saking deg2an nya). Ternyata belum ada. Dicek setiap 1 jam sekali, sampe siang, sore belum kunjung ada. Di group WA camaba yang lainnya pun gelisah menunggu pengumuman kelulusan. Malam pun tiba, pengumuman belum kungjung keluar. Akhirnyaaaaa pukul 22.03 WIB pengumuman bisa di akses. Dan inilah isi pengumuman itu, taraaaaa …


ALHAMDULILLAH, LOLOS !!!

Eeeiiitttssss tapi jangan salah! Dibutuhkan perjuangan yang luar biasa untuk bisa mendapatkan hasil tersebut. Mulai dari harus bisa menerima kenyataan pindah sekolah ke swasta, belajar 1000× kali lebih keras dari pada temen2 yang lain, sering ngerjain tugas sampe engga tidur, beli buku sampe jutaan, konsultasi sama dosen yang engga ada habisnya, dan tentunya lika-liku lainnya (termasuk bersabar dalam penantian selama kurang lebih 6 tahun lamanya). Berat sih, tapi hasilnya luar biasa.

Dari semua cerita yang saya share, intinya cuman satu : “Allah tahu kapan waktu paling tepat untuk do’amu diijabah Tetap semangat untuk kalian yang lagi berjuang untuk sekolah dan mendapatkan beasiswa, harus yakin pasti Allah kasih hasil yang terbaik atas usaha2 yang telah kalian lakukan. Berjuang semaksimal mungkin, berdoa semaksimal mungkin, dan jangan pernah putus asa. Perjuangan saya juga baru dimulai lagi, semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran, aamiin... 

DOAIN YAA! FIGHTING !!!


Allah Tahu Kapan Waktu Paling Tepat Untuk Do’amu Diijabah

(Disclaimer : Murni pengalaman pribadi, dan semoga bisa menginspirasi) Masa pandemik COVID-19 menjadikan kita semua harus dapat beradap...